Buntu, jalan hampir buntu.
Tapi aku percaya, tak pernah ada akhir.
Betapa tidak menyedihkan? Hari ini, tanggal 10 Januari 2011, tepat satu bulan setelah aku berusia 19 tahun (lhoh??), aku diusir secara halus dari departemen F tempatku mengerjakan riset untuk skripsi. Bukan hanya aku, tapi kami berlima.
"Ya sudah, sekarang kalian rapikan semuanya. Terus bisa pulang", kata dokter D.
Flash back ke perjalanan ku waktu itu...
-ooo-
Desember, 2009
Saat aku bersemangat sekali untuk segera menuntaskan riset, yang akan menjadi skripsi. Aku tak ingin menunda-nunda. Di FKUI, mahasiswa S1 diberikan waktu hingga tingkat 4 untuk riset secara berkelompok. Alhamdulillah, saat itu aku dipertemukan dengan empat orang teman yang juga berniat untuk mencari topik riset secepatnya. Maksimal satu kelompok terdiri atas 5-6 orang. Karena sudah sevisi, tanpa ragu lagi aku menawarkan diri untuk menggenapi. Lengkaplah personel kami.
Lalu kami putuskan untuk mendatangi Departemen F. Berdasarkan penuturan salah seorang dosen di sana, ada banyak riset yang dilakukan dan waktu penelitiannya singkat. Dengan yakin dan mantap, kami sampai di sana.
"Maaf dok, kami mahasiswa tingkat 1, mau tanya. Apa di sini ada penelitian yang akan dikerjakan?" dengan polosnya, gaya maba.
"Wah, hebat ya. Masih tingkat satu sudah pengen riset," jawab dokter E.
Lalu dokter E tersebut menjelaskan panjang lebar mengenai proyek riset yang sedang dilakukannya. Beliau menerima kami untuk berperan serta dalam melaksanakan risetnya. Syaratnya tentu ada, kami harus menyusun proposal sendiri, lengkap dengan anggaran penelitian serta lampiran2. Dengan bekal ilmu yang sedikit, kami beranikan untuk mencoba.
Topik waktu itu, "Uji Kelasi Ekstrak Air Mangiferin terhadap Serum Penderita Thalasemia".
Kami setuju dan mengerti apa yang harus kami lakukan segera. Dengan 2 kontrol dan 5 perlakuan. 24 sampel darah penderita. Semua siap, tinggal dikerjakan.
