Selasa, 22 April 2014

My Lovely Little Teachers





Pernahkah kamu bermain dengan anak-anak? Terkhusus lagi, balita?
Pernah mendengar, atau membuatnya menangis, lalu mampu mendiamkannya?
Berhasilkah?
Kalau dia mampu kembali tersenyum padamu, rasanya puas, lalu merasa mampu menaklukannya.
Ya kan?

Untuk yang satu ini, saya sendiri sempat merasa mati gaya. Bahkan hampir kehabisan akal untuk mendiamkannya. Untuk yang satu ini, ‘Memeriksa Pasien Anak’.
Membangun rapport yang baik pada awal pertemuan adalah kunci membangun kepercayaan dan hubungan yang baik antara dokter-pasien. Namun agaknya, untuk pasien spesial seperti mereka, perlu cara yang special pula untuk mendekatinya.
Menyampaikan maksud hati yang ingin sekali berkata, “Tenanglah sayang, aku tak akan melukaimu..” 

Kenyataannya tak semudah itu. Mereka hadir dengan keunikan yang beraneka rupa. Senyumnya, tangisnya, tatapannya, sentuhannya, bahkan kata-kata yang terucap dari mulutnya, menyimpan makna. Mungkin ‘periksa ke dokter’ adalah momen menyeramkan bagi mereka. Apalagi kalau harus minum obat yang rasanya tidak enak itu. Hingga seringkali, secerewet-cerewetnya mereka, seaktif-aktifnya mereka di luar sana, bisa berubah menjadi kebalikannya ketika berhadapan dengan dokter. Karena dua hal, pertama karena sedang sakit, kedua karena takut periksa ke dokter.

Tentunya hal itu tak boleh menjadi alasan untuk seorang dokter untuk ‘menyerah’. Apalagi untuk seorang dokter muda sepertiku, yang masih minim pengalaman dan minim pengetahuan. Masih perlu anamnesis yang panjang dan pemeriksaan fisik yang lengkap untuk menegakkan diagnosis.

Dimulai dengan menyapa, mengajaknya berkenalan, menanyakan apa keluhannya, lalu memintanya menunjuk bagian yang sakit. Kalau mereka mulai takut, mencoba mengajaknya bercanda. Atau menanyakan tentang hal yang lain, kalau mereka sudah lancar berbicara. Atau kalau belum bisa, beraksi sejenak. Dengan cara apapun. Sesekali mereka diam, atau tetap saja ketakutan. Ibu dan ayahnya menjadi segala sumber informasi. Dalam satu waktu, bisa tiba-tiba tersenyum dan ceria, tiba-tiba pula berwajah tersiksa. Kalau sudah benar-benar menangis tiada henti, hmm. Apa yang akan kamu lakukan? Jawabannya, "Teruskan saja." Sambil mencoba berbagai jurus dan daya tarik untuk menenangkannya. Hehe.
Kalau sedang periksa di poli, satu saja ada pasien yang menangis, seluruh anak di ruangan itu bisa ikut menangis. Terbayang bagaimana ramainya?

Yah, tapi itulah tantangannya. Ketika harus mendapatkan data sebanyak-banyaknya, meskipun dia –pasien kecil nan imut itu- meronta sejadi-jadinya. Itulah tantangannya. Itulah serunya.
Thank you dear, for giving me a lot of knowledges. My lovely little teachers. :)

Kerang Mutiara






Dari dulu, saya suka analogi kerang mutiara.
Dia hidup di dasar laut yang dalam lagi gelap.
Semakin sulit dicari, semakin mahal harganya.
Tak tersentuh dan terjamah oleh siapapun.
Kecuali oleh orang yang berani menyelam sedalam itu.

Mutiara itu, adalah buah dari kesabaran, ketangguhan, dan kecerdasannya.
Dalam menghadapi berbagai rintangan di dalam sana.
Tak pernah mengeluh, tak pernah menyerah.

Begitulah prinsipnya,
“Sampai saat itu tiba, tetaplah berada di kedalaman terdalammu.”
Karena muslimah itu, layak untuk menjadi secantik ‘kerang mutiara’.


 

 

Minggu, 16 Maret 2014

Tanda Tanya



Malam ini.
Begitu banyak pertanyaan yang meminta jawaban.
Padahal diri ini, begitu lemahnya.
Oh Allah, forgive me when I whine. :)


“Aku capek.. Aku capek untuk berusaha menegarkan diri sendiri.”

Ya, aku tau, tapi terkadang kita memang harus menggenggam tangan kita sendiri, untuk meyakinkan bahwa kita kuat. Believe in your strength, we have Allah.


“Mengapa rencana Allah itu sulit ditebak?”

Ya, karena kalau saja rencana Allah itu mudah ditebak, manusia tidak akan terdidik untuk mandiri. Menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Ga seru bukan?


“Aku cuma takut mengambil keputusan yang salah.”

Ya, selama kita menyertakan Allah dalam mengambil setiap keputusan, jangan pernah takut salah. Ikuti kata hatimu. Syaratnya, bukan sembarang hati, tapi hati yang benar-benar bertawakkal kepada Allah.


“Tapi, haruskah aku peduli ketika aku punya masalah dengan orang lain?”

Ya, ketika kita melihat dekat sebuah masalah, terutama jika masalah tersebut menyertakan kita di dalamnya, menurutku, kita punya peran untuk mencari solusinya, atau justru menjadi bagian dari solusi itu. Termasuk masalah yang menyangkut hubunganmu dengan orang lain. Tolong, selesaikan baik baik, dengan cara yang baik, langsung atau tidak langsung.


“Aku ingin hidup tenang. Tidak ingin memikirkan semua ini.”

Hei, kamu egois sekali. Memang siapa kamu? Tidakkah kamu berpikir, ketika kamu lari dan tenang dengan hidupmu di sana, belum tentu mereka berpikir sama? Mereka yang kamu tinggalkan, bisa jadi akan semakin terpuruk karena tak segera menemukan jalan keluar. Padahal kamu bisa menjadikan semua ini lebih bernilai untuk semuanya.


“Kalau kamu sudah menyerah, bilang ya. Aku juga akan menyerah.”

Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan menyerah. Kalau kamu menyerah, silakan. Aku akan terus mencoba.


“Kenapa, kenapa kita harus mencoba?”

Karena diri ini akan semakin berarti ketika semakin banyak manfaat dan kebaikan yang kau berikan. Sederhananya. Tanganmu itu, dia akan lebih berarti ketika tulus kau gunakan untuk mengisi kotak infaq, atau untuk menepuk bahu saudaramu yang sedang kesulitan, atau untuk memegang mushaf sejenak ketika bimbang, atau untuk menyingkirkan batu di jalan, atau untuk menulis dan menciptakan sebuah perubahan, atau untuk mengusap keringat yang mengalir di keningmu ketika kamu tengah kelelahan berjuang. Bahkan dia tak menolak ketika kau tengadahkan setiap saat berdo’a dan berbicara kepada Rabbmu.
Kamu tahu? Andai semua bagian dirimu kau gunakan sebaik-baiknya seperti ‘sebuah tangan’ tadi, akan semakin berarti juga dirimu, berarti hidupmu. Maka, jangan menyerah..

Semangat! :)