Petang ini. Begitu sayu, bagi gadis itu.
Ujian blok menjelang disertai kegundahan hati yang menjelma bagai awan kelabu yang diam-diam menyurutkan semangatnya. Hanya masalah sepele, kenapa jadi begitu rumit.
Atas sebuah kebijakan baru: Penutupan wastafel.
Dia ingat sekali.
Anak-anak kos itu memang kerap membuat kesal. Menumpuk cucian piring di wastafel, meninggalkan sisa makanan berupa tulang, sayur, nasi, dan beraneka lauk sehat yang mungkin mereka santap. Hingga menyumbat lubang kecil yang mengalirkan ke tempat pembuangan. Meluap lah air di cekungannya, tak jarang membuat jenuh si mbak yang bersih-bersih.
Kesal. Dia keluhkan harus mencuci piring-piring anak kos itu karena tak tahan melihat gunungan yang semakin tinggi, mengganggu pandangan mata. Tak tahan jua melihat sisa sisa yang hampir menjamur, menjijikkan. Jengkel membersihkan air yang membanjiri lantai di babwah wastafel.
Hingga akhirnya, mbak bersih-bersih itu mengadukan pada sang majikan, si empunya kos-kosan. Tentunya tidak secara langsung karena beliau tidak tinggal di sana. Mbak itu, hanya bercerita empat mata, mungkin enam mata dengan gadis itu dan kakaknya, anak sang pemilik kos-kosan.
