Sabtu, 09 Juli 2011

Kangen Solo

Saya sedang rindu Solo, kota tempat saya dilahirkan. Meskipun saya tinggal di pinggir kota Solo, tapi saya cinta Solo sepenuhnya.. :)

Tiba-tiba saya teringat keramahtamahan seorang nenek yang dipertemukan oleh Allah siang itu. Dalam suatu kecelakaan kecil di jalan utama kota Solo, Jalan Slamet Riyadi.

Saat kepulangan saya ke Solo, saya menyempatkan mampir ke rumah seorang sahabat, Nita. Siang hari itu, tak terlalu panas, saya mengendarai motor kesayangan saya ke arah kota Solo. Kampung Batik Kauman, pusat batik Solo. Kebetulan rumah teman saya di sana, hingga mengharuskan saya melewati jalan Slamet Riyadi, jalan yang paling lebar di kota Solo.

Jumat, 08 Juli 2011

Not to give up

Sayuti, 8 Juli 2011 pukul 20.25.

Kali ini, saya sungguh ingin menuliskannya.

KKD atau keterampilan klinis dasar merupakan satu dari sepuluh kompetensi dokter lulusan FKUI. Di FK lain mungkin dikenal dengan sebutan "skill lab".

Dalam KKD, kami terbagi menjadi kelompok2 kecil yang beranggotakan kira-kira 7 mahasiswa. Lalu biasanya, kami akan berpura-pura menjadi dokter dan pasien.

Untuk Orang Percobaan (OP) biasanya menggunakan teman sendiri atau orang luar. (tentunya laki-laki)

Dalam kegiatan KKD ini, kami belajar mempraktikkan ilmu-ilmu kedokteran yang terkait dengan anemnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan lain yang menunjang. Misalkan pungsi vena, cek tanda vital, pemeriksaan fisik paru jantung, dll.

Dan satu yang tak ketinggalan, ELEKTROKARDIOGRAFI.

Elektrokardiografi adalah ilmu yang mempelajari aktivitas listrik jantung. Elektokardiogram adalah suatu grafik yang menggambarkan rekaman listrik jantung. Di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang katanya nomer satu dan paling bersejarah di Indonesia, KKD EKG terlaksana di semester 4. Tepatnya di modul Kardiovaskuler (Jantung dan Pembuluh Darah).

Rabu, 15 Juni 2011

Buatmu Cah Bagus

Entah sudah kali ke berapa, kakak sampaikan padamu adikku sayang.
Yang selalu aku rindukan.

Segenggam ilmu yang kau minta tentu tiada tandingannya dengan berjuta hal yang pernah kurasakan, kuketahui, dan betapa aku sangat ingin kau mengetahuinya.
Ketika kau selalu bertanya. Dari dulu bertanya.

Kak, soal matematika nomer 19, berapa jawabannya?

Seusai kau menjawab, sudah tentu adikku. Gusar hatimu. Melihat kakak yang seolah acuh tak peduli. Atau hanya sekedar menjawab, ada rumus ini dan ini, lalu memintamu untuk bernalar dan menurunkan satu demi satu rumus itu sendiri.

Benar kan begitu?

Sengaja, sayang. Kakak ingin kau belajar. Bukan menerima segalanya dengan instan. Seperti yang biasa kakak tekankan, "COBA DULU".

Tahukah engkau dik? Dulu saat kakak masih kecil, lebih muda dari usiamu kini. Kakak sudah belajar untuk menyelesaikan semua dengan tangan kakak.

Tahukah engkau dik? Air mata ini selalu tertumpah, meluas dalam pipi-pipi yang basah. Hampir tiap malam. Ketika kakak tertatih, menjawab soal demi soal. Lebih sakit dari cubitan ibu saat kakak nakal terhadapmu. Sering kakak terdiam tak mengerti, hanya memandangi langit-langit sambil membayangkan adanya seorang yang bisa mengajariku.

Mungkinkah bapak atau ibu? Sungguh tidak dik. Sejak kehadiranmu, perhatian terbagi.

Hingga kakak berusaha menggapai mimpi-mimpi sendiri. Berjuang sekuat tenaga untuk menjadi sukses (di mata anak kecil, tentu). Bahkan saat itu dik, aku sudah punya banyak mimpi. Jadi dokter salah satunya. Tahun demi tahun yang kakak jalani, memang terasa bagai duri-duri.

Sekarang, cobalah dik. Coba rasakan percikan ikhtiar kakak untuk membahagiakan bapak dan ibu, ingin membanggakan jua.

Lewat hari demi hari yang terasa berat. Tak tahu harus ke mana bertanya dan mencari tahu, lebih dan lebih. Hingga sering kakak coba cari jawabnya sendiri.

Tahukah kau dik? Kenapa kakak selalu tertantang untuk mencoba sesuatu? Karena kakak tahu, ada suatu potensi yang tersimpan erat dalam diri kita. Belum tergali, jadi kita tak tahu sebenarnya jalan yang mana yang memudahkan untuk meraih prestasi.

Coba dulu! Lalu tanyakan kembali jika kau masih tak tahu. Bosankah dengan kata-kata itu?